Memahat Anak

Mungkin ini efek dari menunggu kelahiran si kecil, saya tertantang untuk mempelajari semua hal tentang Anak dan bagaimana ‘memahatnya’. Seperti tulisan saya sebelumnya di https://rezaimranyanuar.wordpress.com/2012/10/09/orangtua-bukan-pemilik-dari-anak-anaknya/ , bahwa kita orangtua bukanlah pemilik tapi kita diberikan tanggung jawab besar oleh Tuhan untuk membentuk Anak-Anak kita.
Lalu saya bertanya-tanya. Harus dengan alat apa saya nanti memahat  Anak-Anak kami?. Membentuk satu masterpiece atau masterpieces yang indah dan disukaiNYA??
Saya ingat betul saya mendapatkan kata-kata ini dari sebuah film cuma maafkan saya, saya lupa judul filmnya hehehehe. “Didiklah Anak-Anak dengan Kasih Sayang, Kebebasan, dan Imajinasi” . Kata-kata itu adalah yang paling cocok buat saya, itu adalah alat saya nanti dalam mendidik anak-anak saya. Kenapa?
1. Kasih Sayang
     Apa sih yang diinginkan seluruh orang didunia ini selain Kasih Sayang?, dua kata sederhana yang penuh kehangatan tapi banyak orang yang tersesat dalam mencarinya. Beberapa orang kira kasih sayang mereka dapatkan karena mereka kaya, mereka dapatkan dari fans dan penggila mereka diatas panggung, mereka dapatkan dari teman-teman pecandunya, dan lainnya. Buat saya, Anak-Anak saya harus mendapatkan Kasih Sayang dari kedua orang tuanya. Perlindungan, pengertian dan kesiapan kami disisi Anak-Anak kapanpun dan dalam situasi apapun itulah Kasih Sayang kami. Dan mereka harus tau itulah Kasih Sayang cara kami orangtuanya.
2. Kebebasan
     Mungkin ini paling berat dari ketiga hal ini. Karena bagaimanapun orangtua ingin Anak-Anaknya menjadi seperti yang orangtua mau. Tapi syukurlah pemahaman saya tentang Anak bukanlah milik orangtua mungkin bisa membuat kami lebih legowo dalam menyikapi kebebasan ini. Kami akan biarkan anak ini berkembang mengikuti bentukan jaman dan waktu. Tapi kami sepakat, kami orangtua harus mampu menjadi role-model Anak-Anak kami dalam berkehidupan. Terutama dalam tahap pembentukan 1-25 tahun. Kami harus selalu ada buat Anak-Anak berkeluh kesah tentang dunia dan mengadu tentang hantaman jaman. Ada sebagai role-model.
3. Imajinasi
     Semakin tua kita semakin malas kita berimajinasi, kita lebih berpikir realistis. Padahal menurut saya, orang pintar minum tolak angin? NOOOoooooo🙂 . Orang Pintar adalah orang yang dapat mengawinkan imajinasi dan realitas menghasilkan reali-imajinitas. Anak-Anak adalah juragannya imajinasi, dan kita orangtua terkadang dengan mudahnya memperkosa imajinasi mereka dengan realitas, Atau malah menutupi realitas dengan imajinasi tanpa kenyataan yang ada. Alih-alih memperkosa imajinasi Anak-Anak kami, atau membohongi mereka dengan imajinasi kosong, kami akan memadukan realitas dengan kekayaan imajinasi mereka. Basic question yang kadang membuat kalang kabut “bagaimana aku bisa lahir?”. Mungkinkah kita orangtua sanggup menjelaskan tentang hubungan badan dan sex secara gamblang tanpa filter apa-apa pada Anak-Anak kita? Saya rasa terlalu susah…. atau hanya saya yang susah? hahahahahaha…. Tapi buat kami filter terbaik adalah imajinasi mereka. Buat kami dari pertanyaan itu banyak hal yang bisa kami jelaskan dalam sebuah dongeng, Bagaimana seorang ibu berkorban menyerahkan nyawa demi melahirkan Anak-Anaknya, Bagaimana kami para Ayah menjadi insan penuh harap dan kepasrahan saat menunggu kabar dari ruang bersalin, intinya dari pertanyaan itu kami bisa menjelaskan tentang Kasih Sayang yang terjadi mulai dari saat pembuahan hingga kelahirannya. Sebuah dongeng indah yang berakhir dengan happily ever after. Yup! itulah kenyataan yang didongengkan… reali-imajinitas.
Apakah saya akan berhasil memahat Anak-Anak kami menjadi karya-karya indah? Saya belum bisa bilang……kita lihat saja nanti🙂
Salam Damai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s